Seperti dirimu,
Meski hanya rembulan separuh. Ijinkan ku menyisir
rindumu. Menjahit kisah yang pernah retak. Dan Jatuh di telaga yang
menguning. Pada nafas, pada stupastupa sunyi, dirimu adalah puisiku yang
kutulis satusatu.
Malam ini, bulan masih bersembunyi dalam
kebaya ibu, dan purnama mulai menjahit sejarah. Mengetuk dadaku.
Kemudian pergi setelah mentari mengintip di batangbatang gurindam.
Kadang aku sering bertanya, siapakah dirimu? Suara debudebukah?
Saat kutulis puisi ini di meja makan. Bungabunga salju mencair .
Berdesir dipangkuan. Meratap melepas tanya, lalu berhenti sejenak
memandang wajahmu. Mengecupi harapan di lembah bukitbukit. Yang pernah
kita daki dulu. Memunguti remahremah rindu. Dan bertanya pada
datukdatuk, untuk menyimpan resah.
Berjalan menuruni mata air,
yang tak berujung. Menemui mimpimimpi yang tak bertepi.sampai purnama ke
seribu, kau tertidur, menjadi semesta puisiku.
Padepokan Halimun, 06 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar