Senin, 02 April 2012

Sebuah Perjalanan

Seperti dirimu,
Meski hanya rembulan separuh. Ijinkan ku menyisir rindumu. Menjahit kisah yang pernah retak. Dan Jatuh di telaga yang menguning. Pada nafas, pada stupastupa sunyi, dirimu adalah puisiku yang kutulis satusatu.

Malam ini, bulan masih bersembunyi dalam kebaya ibu, dan purnama mulai menjahit sejarah. Mengetuk dadaku. Kemudian pergi setelah mentari mengintip di batangbatang gurindam.

Kadang aku sering bertanya, siapakah dirimu? Suara debudebukah?

Saat kutulis puisi ini di meja makan. Bungabunga salju mencair . Berdesir dipangkuan. Meratap melepas tanya, lalu berhenti sejenak memandang wajahmu. Mengecupi harapan di lembah bukitbukit. Yang pernah kita daki dulu. Memunguti remahremah rindu. Dan bertanya pada datukdatuk, untuk menyimpan resah.

Berjalan menuruni mata air, yang tak berujung. Menemui mimpimimpi yang tak bertepi.sampai purnama ke seribu, kau tertidur, menjadi semesta puisiku.



Padepokan Halimun, 06 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar