Anakku bertanya pada hujan, yang rintiknya bersembunyi di
balik tubuhku, malu malu menyapa malam.
"Bukankah kau masih menemaniku hingga pagi menjelang?"
tapi hujan membisu, hanya petir menggelegar yang menjawab.
anakku ketakutan, lari kepelukan ibunya.
"Ibu, apakah hujan itu teman ayah?"
"Hujan adalah ayahmu nak. Wajah, alis dan bibirnya serupa air yang membasahi hatimu."
Anakku hanya terdiam, sambil memandang hujan di luar jendela kamar.
"Aku ingin bercermin pada hujan, hingga ayah datang menulis puisi, seteduh lautan."
dan malam makin purnama, anakku masih mengusap kaca jendela yang basah, menanti hujan bermain dalam tidurnya.
"Bukankah kau masih menemaniku hingga pagi menjelang?"
tapi hujan membisu, hanya petir menggelegar yang menjawab.
anakku ketakutan, lari kepelukan ibunya.
"Ibu, apakah hujan itu teman ayah?"
"Hujan adalah ayahmu nak. Wajah, alis dan bibirnya serupa air yang membasahi hatimu."
Anakku hanya terdiam, sambil memandang hujan di luar jendela kamar.
"Aku ingin bercermin pada hujan, hingga ayah datang menulis puisi, seteduh lautan."
dan malam makin purnama, anakku masih mengusap kaca jendela yang basah, menanti hujan bermain dalam tidurnya.
Padepokkan Halimun, 24 November 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar